Seorang anak dikeluarkan berkali-kali dari sekolah. Sekolah terakhir yang dimasukinya mengalami hal yang sama. Guru-guru tidak sanggup mengajarnya. Kata bodoh seakan tidak cukup untuk menggambarkannya. Bahkan ayahnya setuju dengan ungkapan amat sangat bodoh sekali. Namun ibunya, setelah menerima surat pemberitahuan dari sekolah untuk memulangkan anaknya, tidak menyerah begitu saja. Nama ibu ini adalah Nancy Matthew Edison. Ia terus berjuang dan anaknya kemudian menjadi seorang penemu yang dikenang sepanjang masa. Nama anak ini adalah Thomas Alfa Edison.
Jika ibu ini menyerah, dan anak itupun menyerah, maka mungkin anak tersebut benar-benar tidak menjadi apa-apa. Namun ibunya memilih untuk menolak nasib buruk si anak, dan anaknya pun berjuang mengubah nasib buruknya.
Secara manusia iya, jelas akan gagal. Tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Secara ilmu kedokteran iya, jelas ia sudah tidak ada harapan. Namun Tuhan bisa mengubah semuanya. Secara manusia sudah tidak ada kecocokan, namun Tuhan sanggup memulihkan semuanya.
Tuesday, January 24, 2017
Menolak Nasib Buruk
Yabes artinya penderitaan, dukacita, kesakitan. Seorang ibu melahirkan dengan sangat sakit memberi nama Yabes pada anaknya. Jadi sejak kecil ia dipanggil kesakitan, penderitaan, dukacita. Ia dilahirkan dengan nasib yang jelek. Teman-temannya akan melabeli dia orang yang menderita. Gurunya akan mengabsen dan memanggilnya penderitaan, mungkin ia akan malu untuk mengangkat tangannya atau menjawab. Orang-orang melabelinya dukacita. Orang yang sial, tidak punya masa depan. Namun Yabes menolak nasib buruknya.
Ia tidak mengaminkan perkataan-perkataan semua orang disekitarnya. Ia memilih untuk melawan nasibnya. "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya". Ia menggemakan perkataan yang positif. Mematahkan nasib jelek dengan perkataan iman dari dasar hati.
Yabes menaikkan doa yang berani. Ia berseru pada Allah, "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari malapetaka sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.
Dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Ini adalah kunci mematahkan nasib jelek. Coba kau bayangkan jika ada lima bersaudara yang gagah berani. Satu orang tidak dianggap oleh orang tuanya. Seperti Yusuf yang hanya dipercaya 2 atau 3 ekor kambing domba. Kira-kira orang yang tidak berguna ini akan mendapatkan bagian warisan yang banyak atau sedikit? Dibanding dengan saudara-saudaranya ia paling sedikit, sepetak tanah. Mungkin ia akan berdoa seperti ini, "Semoga orang tuaku menambahi warisannya sehingga tidak terlalu sedikit."
Namun Yabes tidak seperti itu, ia menaikkan doa dengan berani bukan doa yang lemah. Meminta Tuhan yang memperluas wilayahnya. Bukan meminta berkat yang cukup tetapi yang berlimpah-limpah. Tuhan menyukai doa yang berani. Ingat Yabes yang meminta, yabes adalah dukacita, penderitaan. Dalam keadaan terpuruk ia meminta dengan keberanian luar biasa.
"Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu". Itulah level Tuhan, level dunia. Doa yang berani mendatangkan kemenangan yang gilang gemilang.
Nasibku bukan nasib sial lagi. Nasibku adalah nasib yang berkemenangan.
Ia tidak mengaminkan perkataan-perkataan semua orang disekitarnya. Ia memilih untuk melawan nasibnya. "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya". Ia menggemakan perkataan yang positif. Mematahkan nasib jelek dengan perkataan iman dari dasar hati.
Yabes menaikkan doa yang berani. Ia berseru pada Allah, "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari malapetaka sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.
Dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Ini adalah kunci mematahkan nasib jelek. Coba kau bayangkan jika ada lima bersaudara yang gagah berani. Satu orang tidak dianggap oleh orang tuanya. Seperti Yusuf yang hanya dipercaya 2 atau 3 ekor kambing domba. Kira-kira orang yang tidak berguna ini akan mendapatkan bagian warisan yang banyak atau sedikit? Dibanding dengan saudara-saudaranya ia paling sedikit, sepetak tanah. Mungkin ia akan berdoa seperti ini, "Semoga orang tuaku menambahi warisannya sehingga tidak terlalu sedikit."
Namun Yabes tidak seperti itu, ia menaikkan doa dengan berani bukan doa yang lemah. Meminta Tuhan yang memperluas wilayahnya. Bukan meminta berkat yang cukup tetapi yang berlimpah-limpah. Tuhan menyukai doa yang berani. Ingat Yabes yang meminta, yabes adalah dukacita, penderitaan. Dalam keadaan terpuruk ia meminta dengan keberanian luar biasa.
"Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu". Itulah level Tuhan, level dunia. Doa yang berani mendatangkan kemenangan yang gilang gemilang.
Nasibku bukan nasib sial lagi. Nasibku adalah nasib yang berkemenangan.
Saturday, January 21, 2017
Kisah Sekantong Kentang
Suatu hari seorang guru memberikan perintah kepada anak-anak didiknya yang duduk dikelas 4. "Besok kalian ditugaskan membawa kentang. Caranya, hari ini kali mencatat siapa saja teman yang kalian ingat pernah membuat marah atau jengkel. Tulislah satu nama dalam satu kentang. Semakin banyak nama yang kalian kumpulkan, semakin banyak pula kentang yang harus kalian bawa."
Anak-anak mendengarkan dengan seksama lalu tertawa kegirangan. Mereka belum pernah mendapat tugas seperti itu, sehingga berpikir tentu permainan ini sangat mengasyikkan. Maka mulailah mereka menulis nama teman-teman mereka, sebanyak yang mereka ingat. Ada yang menulis 5 nama, 10 nama bahkan ada yang 20 nama! Mereka pulang dengan bersemangat, membawa secarik kertas berisi nama teman-teman dan menceritakan kepada orang tua mereka dengan bersemangat.
Maka keesokan harinya dimulailah proyek kentang di sekolah. Pak guru memasuki kelas dan setiap anak membawa kentangnya masing-masing tanpa ada yang kelupaan. Kata Pak Guru, " Mulai hari ini, kentang-kentang itu harus kalian bawa kemanapun kalian pergi, makan, tidur, belajar, bermain, bahkan ke kamar mandi kalian tidak boleh meninggalkan mereka selama satu bulan penuh. Apakah kalian siap?". "Siappp..., sahut mereka dengan sorak sorai.
Hari pertama mereka semangat sekali membawa kentang mereka kemana-mana. Tiga hari berlalu mereka masih melakukannya dengan gembira. Tetapi ketika dua minggu telah berlalu, kentang-kentang itu mulai membusuk dan mengeluarkan cairan. Mereka mulai tidak nyaman, terganggu, merasa kentang-kentang itu terlalu berat dan mulai mengomel. Tidak konsentrasi belajar karena bau kentang busuk. Di rumah bau kentang busuk, di sekolah juga bau kentang busuk, ketika makan juga bau kentang busuk. Hal itu sangat mengganggu mereka sampai-sampai beberapa jatuh sakit.
Ketika genap satu bulan, Pak Guru membolehkan anak-anak membuang kentang-kentang itu. Mereka melakukannya dengan kegirangan. "Horeeee.... akhirnya aku tidak usah mengangkat berat-berat. Tidak usah mencium bau busuk. Dapat tidur dengan nyenyak". Banyak lagi ungkapan kegembiraan mereka.
Sebenarnya seperti itulah rasa sakit hati dan terluka yang kita ingat dan bawa-bawa seumur hidup kita. Awalnya memang wajar, kita marah, terluka dan kecewa. Namun kekecewaan yang kita bawa kemana-mana. Yang kita ingat sepanjang umur kita, akhirnya berbalik melukai diri kita sendiri.
Kita kecewa dan rasa sakit hatinya terasa begitu segar. Padahal kejadiannya berlangsung sepuluh tahun yang lalu. Saar atau tidak, seluruh tenaga dan perhatian kita akan terkuras melalui hal-hal negatif. Kita akan kehilangan banyak hal indah yang seharusnya kita dapatkan.
Jika baru sebulan kalian membawa kentang-kentang itu. Coba bayangkan jika bertahun-tahun. Ada berapa hal baik, kesempatan baik, berkat terlepas dari tangan kalian?
Itu gambaran bila kau masih menyimpan kekecewaan, iri hati, trauma masa lalu dan amara dalam hatimu. Semakin lama kau menyimpannya, semua itu akan membusuk dan merampas anugerah yang tersedia buatmu. Jika kau masih sulit melakukannya, berdoalah minta kekuatan dari Tuhan unuk memampukanmu. Dan bersiap-siaplah mengalami favor Tuhan dalam hidup Anda.
Anak-anak mendengarkan dengan seksama lalu tertawa kegirangan. Mereka belum pernah mendapat tugas seperti itu, sehingga berpikir tentu permainan ini sangat mengasyikkan. Maka mulailah mereka menulis nama teman-teman mereka, sebanyak yang mereka ingat. Ada yang menulis 5 nama, 10 nama bahkan ada yang 20 nama! Mereka pulang dengan bersemangat, membawa secarik kertas berisi nama teman-teman dan menceritakan kepada orang tua mereka dengan bersemangat.
Maka keesokan harinya dimulailah proyek kentang di sekolah. Pak guru memasuki kelas dan setiap anak membawa kentangnya masing-masing tanpa ada yang kelupaan. Kata Pak Guru, " Mulai hari ini, kentang-kentang itu harus kalian bawa kemanapun kalian pergi, makan, tidur, belajar, bermain, bahkan ke kamar mandi kalian tidak boleh meninggalkan mereka selama satu bulan penuh. Apakah kalian siap?". "Siappp..., sahut mereka dengan sorak sorai.
Hari pertama mereka semangat sekali membawa kentang mereka kemana-mana. Tiga hari berlalu mereka masih melakukannya dengan gembira. Tetapi ketika dua minggu telah berlalu, kentang-kentang itu mulai membusuk dan mengeluarkan cairan. Mereka mulai tidak nyaman, terganggu, merasa kentang-kentang itu terlalu berat dan mulai mengomel. Tidak konsentrasi belajar karena bau kentang busuk. Di rumah bau kentang busuk, di sekolah juga bau kentang busuk, ketika makan juga bau kentang busuk. Hal itu sangat mengganggu mereka sampai-sampai beberapa jatuh sakit.
Ketika genap satu bulan, Pak Guru membolehkan anak-anak membuang kentang-kentang itu. Mereka melakukannya dengan kegirangan. "Horeeee.... akhirnya aku tidak usah mengangkat berat-berat. Tidak usah mencium bau busuk. Dapat tidur dengan nyenyak". Banyak lagi ungkapan kegembiraan mereka.
Sebenarnya seperti itulah rasa sakit hati dan terluka yang kita ingat dan bawa-bawa seumur hidup kita. Awalnya memang wajar, kita marah, terluka dan kecewa. Namun kekecewaan yang kita bawa kemana-mana. Yang kita ingat sepanjang umur kita, akhirnya berbalik melukai diri kita sendiri.
Kita kecewa dan rasa sakit hatinya terasa begitu segar. Padahal kejadiannya berlangsung sepuluh tahun yang lalu. Saar atau tidak, seluruh tenaga dan perhatian kita akan terkuras melalui hal-hal negatif. Kita akan kehilangan banyak hal indah yang seharusnya kita dapatkan.
Jika baru sebulan kalian membawa kentang-kentang itu. Coba bayangkan jika bertahun-tahun. Ada berapa hal baik, kesempatan baik, berkat terlepas dari tangan kalian?
Itu gambaran bila kau masih menyimpan kekecewaan, iri hati, trauma masa lalu dan amara dalam hatimu. Semakin lama kau menyimpannya, semua itu akan membusuk dan merampas anugerah yang tersedia buatmu. Jika kau masih sulit melakukannya, berdoalah minta kekuatan dari Tuhan unuk memampukanmu. Dan bersiap-siaplah mengalami favor Tuhan dalam hidup Anda.
Wednesday, January 18, 2017
Favor
Kehidupan kita tidak selalu mulus. Setiap orang memiliki jalanannya sendiri dengan bebatuannya. Tuhan tidak pernah menjanjikan langit selalu biru. Namun Tuhan berjanji akan selalu menyertai kita. Tuhan juga tidak berjanji jalanan kita selalu rata. Tetapi Tuhan berjanji akan selalu memberikan kekuatan.
Berbeda dengan iblis, ia selalu mencari celah sekecil apapun itu untuk menghancurkan hidup kita. Mencari segala cara melalui orang-orang di sekitar kita yang secara sengaja atau tidak menyakiti hati kita. Kesalahan orang-orang itu pastilah akan berlalu. Orangnya telah lupa. Mungkin saja segala kata-kata yang menyakitkan itu telah terucap sepuluh tahun yang lalu. Tetapi kita mengingatnya dan terasa begitu segar. Seakan-akan baru saja terjadi.
Itulah negatifitas yang menguasai hati dan hidup kita. Jika kita tidak membuangnya, ia akan membunuh hidup kita. Bahkan menghancurkan masa depan kita dan menutup semua pintu-pintu berkat. Stop untuk menuntut dan melihat keburukan orang lain. Stop untuk meminta penghargaan dari orang lain.
Start untuk memulai hidup baru. Start untuk menghargai orang lain. Start untuk membantu orang lain. Fokus hanya pada hal-hal positif. Fokus pada rencana Tuhan. Fokus pada kebaikan Tuhan. Hal-hal positif menarik favor Tuhan dalam hidup kita.
Negatifitas sebaliknya menarik hal-hal buruk. Menarik sakit penyakit. Entah kenapa banyak ibu-ibu ini, sudah tahu kekurangan suaminya, tapi malah di "zoom... zoom... zoom". Seperti sehelai kertas putih dengan titik hitam ditengahnya. Yang kita lihat bukannya kertas yang putihnya luas melainkan satu titik hitam. Atau yang lebih mengherankan banyak orang ini hobi "koleksi kekecewaan". Kekecewaan kok dikoleksi?
Ketika iblis berhasil menemukan celah, ia akan membunuh kasih dalam hidupmu. Luka yang ada menjadi semakin dalam dan lebih dalam membuat gelap mata. Dan 99% keputusan yang salah dibuat saat kita marah atau kondisi hati yang salah. Ketika hidup kita dalam bayang-bayang kegelapan, kita telah kalah perang. Damai sejahtera hilang.
Jika negatifitas menarik hal buruk, positifitas menarik favor Tuhan. Bagaimana cara menarik semut untuk datang ke rumah kita? Apakah dengan memanggil-manggil? Tentu tidak, cukup taruh gula maka mereka datang. Bagaimana cara menarik burung walet? Apakah dengan memanggil mereka juga?
Demikian juga untuk menarik favor Tuhan. Keberuntungan tidak datang karena kebetulan. Jika tidak percaya coba kau dekati orang yang penuh keberuntungan. Hidupnya juga dipenuhi hal-hal positif dan ucapan syukur. Di tahun 2017 ini mari kita buang segala hal yang negatif.
Friday, December 30, 2016
Berani Bermimpi Lebih
Kapasitas kita berbeda dengan kapasitas Tuhan. Kadang cita-cita, kubayangkan seberapa jauh aku sanggup merengkuhnya. Seberapa besar kemampuan yang kau miliki. Menjadi landasan dasar munculnya suatu keinginan dan cita-cita.
Kita lupa, Tuhan yang Maha Bisa telah menyertai perjalanan kira sampai sekarang. Aku lupa, Tuhan yang Maha Mampu sanggup mengubah hidupku. Kamu juga lupa, Tuhan yang Maha Kuasa sanggup mengabulkan apa saja keinginanmu.
Ketika membaca kisah Elia dan Elisa. Betapa Elia Nabi terbesar yang pernah hidup di jaman itu. Mungkin jika aku adalah Elisa, memiliki setengah kemampuan Elia membuatku sangat puas. Mungkin jika kau Elisa, menyamai kemampuannya akan membuatmu tersenyum bangga. Tetapi tidak untuk Elisa! Urapan dobel porsi. Sesuatu yang jauh dari bayangan kita. Bahkan takut untuk kita mimpikan. Telah menjadi mimpi Elisa.
Bukan hanya setengah kemampuannya. Bukan hanya kemampuam yang sama. Bahkan lebih dari itu. Dua kali lipat kemampuan yang lebih baik. Beranikah kau dan aku memimpikan itu? Impian besar yang membuat kita merasa sangat kecil? Yang seakan-akan tidak sanggup kita lakukan?
Nyatanya Elisa berani dan berhasil mendapatkannya. Tentu saja dengan benar-benar mengikuti Elia dari dekat dan menempel padanya. Seperti kita dengan dengan Tuhan dan menempel pada-Nya.
Kita lupa, Tuhan yang Maha Bisa telah menyertai perjalanan kira sampai sekarang. Aku lupa, Tuhan yang Maha Mampu sanggup mengubah hidupku. Kamu juga lupa, Tuhan yang Maha Kuasa sanggup mengabulkan apa saja keinginanmu.
Ketika membaca kisah Elia dan Elisa. Betapa Elia Nabi terbesar yang pernah hidup di jaman itu. Mungkin jika aku adalah Elisa, memiliki setengah kemampuan Elia membuatku sangat puas. Mungkin jika kau Elisa, menyamai kemampuannya akan membuatmu tersenyum bangga. Tetapi tidak untuk Elisa! Urapan dobel porsi. Sesuatu yang jauh dari bayangan kita. Bahkan takut untuk kita mimpikan. Telah menjadi mimpi Elisa.
Bukan hanya setengah kemampuannya. Bukan hanya kemampuam yang sama. Bahkan lebih dari itu. Dua kali lipat kemampuan yang lebih baik. Beranikah kau dan aku memimpikan itu? Impian besar yang membuat kita merasa sangat kecil? Yang seakan-akan tidak sanggup kita lakukan?
Nyatanya Elisa berani dan berhasil mendapatkannya. Tentu saja dengan benar-benar mengikuti Elia dari dekat dan menempel padanya. Seperti kita dengan dengan Tuhan dan menempel pada-Nya.
Saturday, December 17, 2016
Stamina untuk Terobosan Besar
Hari ini aku ingin menyambung perjalanan dari Gilgal ke Betel dan Yerikho. Memulai suatu permulaan baru tentu sangat menyenangkan untukku. Tapi aku tahu, tidak hanya memulai saja. Kita juga harus menyelesaikannya. Ibarat bepergian keluar kota menaiki mobil, kita membutuhkan bensin untuk melanjutkan perjalanan. Dan untuk melanjutkan suatu permulaan baru kau membutuhkan stamina.
Tanpa stamina semua yang kau mulai bisa terhenti, stagnasi dan tak menghasilkan apa-apa. Aku butuh kekuatan dan keinginan yang menyala-nyala. Begitu pula dengan kau. Elisa dalam kisah kemarin punya keinginan yang menyala-nyala. "Nggak cukup hanya sampai ke Gilgal! Aku harus ke Betel! Nggak cukup hanya di Betel! Aku harus ke Yerikho! Dan nggak cukup hanya sampai Yerikho! Aku akan mengejar terus sampai urapan dobel porsi itu jadi milikku!"
Rintangan apapun! Halangan apapun! Aku tetap maju sampai aku menang! Jika kita mau mengalami terobosan kehidupan besar, kobarkanlah keinginan yang menyala-nyala. Semangat yang luar biasa. Tuhan itu memampukan kau untuk melewati batas yang kau tetapkan sendiri. Selama kau mau!
Jika aku loyo, "Ya sudah, seperti ini saja sudah cukup. Yang penting bisa makan dan minum". Atau yang menjadi pengusaha, "Ya, sekarang semua sudah cukuplah. Apalagi yang mau dikejar? Yang penting hidup tenang menikmati hari tua. "No, no, no... Kontrakmu belum habis, begitu juga kontrakku masih diperpanjang dan Tuhan belum memanggil kita pulang.
Itulah musuh terbesar pertama di Betel. Namanya adalah kenyamanan. Aku sudah enak. Kau sudah ada di "comfort zone". Untuk apa aku ambil resiko dan berkorban lebih banyak. Setelah itu kemajuan kita berhenti. Selamanya tidak ada terobosan. Maukah kau seperti itu?
Jangan ijinkan kenyamananmu merampas terobosan yang lebih besar yang sudah Tuhan rencanakan bagimu. Kalahkan kenyamanan, terus melangkah maju lagi dan alami keajaiban Tuhan yang luar biasa.
Ada suatu kisah, seorang ada yang memprotes ayahnya. "Yah, aku capek belajar, harus sekolah, lalu pulang masih belajar lagi, mengulang-ulang yang telah kupelajari. Lebih enak temanku, ia bebas bermain-main dan menonton. Tidak sepertiku."
"Yah, aku capek harus membantu membersihkan rumah. Lebih enak temanku, ia punya pembantu, tidak usah melakukan pekerjaan melelahkan ini".
"Yah, aku capek harus hemat-hemat, harus menabung, enakan temanku, ia bebaskan membeli apa saja dan menghabiskan uang jajannya."
"Yah, aku capek harus jaga sikap. Bersikap manis, sopan dan menahan diri untuk tidak melakukan semua keinginanku. Pokoknya aku capek!"
Ayahnya tersenyum mendengarnya. "Ayo, ikut aku! Kita akan pergi ke suatu tempat."
"Kemana?", tanya anaknya keheranan. "Ikuti saja, nanti kau akan tahu.", ujat ayahnya bersemangat. Si anakpun mengikuti ayahnya pergi. Ternyata jalan yang diambil sangat buruk dan panjang, berbatu-batu, sempit, licin, curam, naik dan turun, becek-becek. Mengalami hal ini, si anak protes lagi. "Mau kemana sih yah? Mengapa jalannya sesulit ini? Kakiku pegal, becek-becek, tidak menyenangkan."
"Sabar aja, sebentar lagi kita sampai.", sahut ayahnya tenang.
Singkat cerita, mereka tiba di suatu tempat. Tempat yang indah yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Begitu hijau, begitu segar dan bersih dengan suara air, kicau burung dan tak ada seorangpun selain mereka di sana! "Bagaimana tempat yang seindah ini, tidak ada orang selain kita, Yah? Keindahannya melebihi sukarnya perjalanan yang kita lewati tadi."
"Banyak orang mau melihat keindahan ini, tetapi tidak mau berjuang melalui perjalanan terjal yang kita lewati tadi. Banyak orang menginginkan hasil yang baik, tetapi tidak mau mengusahakannya. Banyak orang tidak mau berjuang, tetapi mau hasilnya. Itulah sebabnya, hanya ada kita di sini.", sahut ayahnya sabar.
Untuk mencapai semua itu kita harus "bertahan sampai akhir". Saat kau dan aku ingin memiliki stamina yang cukup untuk mengalami terobosan besar, kita butuh keyakinan, kita butuh iman untuk tetap bertahan sampai titik terakhir. Sebab musuh terbesar kedua saat kita berada di Betel adalah keputusasaan.
Semua orang tahu tentang kisah bangsa Israel yang merebut tanah perjanjian. Namun kebanyakan orang tidak memperhatikan iman yang di miliki oleh mereka. Ketika menghadapi masalah yang besar, musuh-musuh raksasa, ketika hati mereka sesaat merasa gentar menghadapi tekanan yang besar. Kadang semua orang merasa begitu, seperti tidak ada lagi kekuatan yang tersisa.
Semua orang juga tahu kisah Abraham. Ia menanti dengan sabar dan dengan demikian memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. Walaupun usianya tidak lagi memungkinkan, 90 tahun! Sementara istrinya mandul, sudah tidak haid. Ia tetap percaya dan tidak putus asa. Hal yang sulit dilakukan banyak orang.
Kekuatan dibangun melalui tekanan. Kau dan aku juga tahu. Namun walaupun otak kita sudah pintar dan mengerti akan hal itu, hati kita masih kurang pintar. Ketika ujian datang kita malah sering memilih untuk memiliki keputusasaan. Mulai sekarang jangan lakukan itu. Kau dan aku harus memiliki keyakinan. Kekuatan memang dibangun melalui tekanan. Seperti atlet-atlet, itu adalah latihan otot supaya otot iman kita makin terbentuk. Tekanan-tekanan itu tidak akan menghancurkan kita. Ia berjalan bersama kita. Tekanan yang lebih kuat, membentuk kita lebih kuat.
Tempat ketiga untuk memasuki terobosan adalah Yerikho. A place of spiritual warfare. Tempat di mana Yesus digoda iblis saat berpuasa 40 hari. Arena perang pertama yang harus dilalui Bangsa Israel sebelum merebut Tanah Kanaan. Inilah tempat kita diserang! Iblis dengan segala kekuatannya akan menyerang kita. Namun kita juga harus ingat, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Jika masalah yang datang teramat besar, jangan melihat masalahnya, lihat Tuhan yang lebih besar. Jangan kau dan aku melarikan diri dikejar-kejar masalah. Daripada begitu, lebih baik kita menjadi orang yang membuat masalah tunggang langgang dari hidup kita.
Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Meski seringkali, ketika sedang berjuang menghadapi kehidupan, kita cenderung merasa ditinggalkan. Beratnya tantangan dan permasalahan yang berat menghadang kerap membuat kita gentar. Semakin kita mengamati besarnya berbagai rintangan yang berada di hadapan kita, semakin bertambah besar semuanya itu dalam pandangan kita. Ketika Yosua telah berada di dekat Yerikho, kota benteng terkuat di tanah perjanjian, mungkin itulah yang dirasakan olehnya. Kini tinggal selangkah lagi untuk masuk dan merebut apa yang telah Tuhan janjikan, tetapi itu juga berarti ia kian mendekati raksasa-raksasa besar penguasa tanah Kanaan. Sangat manusiawi jika saat itu ia merasa goyah. Sampai ia melayangkan pandangannya dari Yerikho sampai kepada Panglima Balatentara TUHAN yang berdiri didepannya dengan pedang terhunus di tangan-Nya. Seakan mengatakan, "Tenanglah, Aku ada di sini dan siap untuk berperang bersamamu." Bukan hanya menyatakan kehadiran-Nya, tetapi Tuhan juga memberitahukan Yosua langkah-langkah yang harus dilakukannya demi memenangkan pertempuran tersebut. Yaitu dengan mengitari kota Yerikho sebanyak tiga belas kali selama tujuh hari lamanya. Sungguh strategi perang yang tidak masuk akal di mata manusia, tetapi Yosua mematuhinya.
Setelah itu Yosua dan bangsa Israel yang dipimpinnya menuliskan sejarah yang paling fenomenal. Tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia, sebelum dan sesudah itu, sebuah benteng yang terkenal karena kekokohannya dirobohkan hanya dengan dikeliligi berarak-arakan.
Kita ada di tengah peperangan roh yang kebanyakan orang tidak sadar. Peperangan itu adalah antara kita, yang termasuk dalam Kerajaan Allah, melawan iblis yang menguasai Kerajaan Kegelapan. Sadarlah dan berjaga-jagalah, lawanmu si iblis berjalan seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Ini berarti ada yang dapat ditelannya dan ada yang tidak. Sadar dan berjaga-jaga, orang-orang yang ini tidak akan terkecoh sama sekali.
Ia akan menyerang dimensi jasmani, jiwa dan roh. Kedengarannya memang aneh, karena itu banyak orang tidak sadar dan berjaga-jaga. Contoh penyerangan dalam dimensi roh. Ada orang yang sakit dan tidak bisa berkarya apapun. Ia diserang secara roh. Setelah roh itu diusir keluar dari dalam tubuhnya, ia kembali normal dan dapat beraktivitas maksimal. Tetapi dapat juga telak-telak secara jasmani. Hidup secara serampangan, makan makanan tanpa tahu ada zat-zat apa yang ada didalamnya, yang penting enak. Semua makanan tidak sehat memang dibuat seenak mungkin sehingga kita mau memakannya. Banyak orang tentu mau makan makanan ini.
Bila kau memancing, kau akan memberi umpan pada kailnya atau langsung kau berikan kailnya saja? Tentu saja dengan umpan yang gemuk dan menari-nari, sehingga sewaktu si ikan melihatnya ia akan berkata, "Wow, kelihatannya lezat sekali!". Jika hanya kau berikan mata kail saja dan si ikan masih mau memakannya, itu namanya ikannya kegoblokan.
Kau dan aku pastu memiliki cara hidup yang berbeda dengan kebanyakan orang jika kita sadar ada dalam peperangan roh.
Senjata yang kita pakai dalam peperangan roh adalah Firman. Di Yerikho, Yesus ketika menghadapi peperangan roh dengan setan, Ia selalu menjawab dengan :"Ada tertulis...". Yosua juga sama, ia menang dalam peperangan roh di Yerikho dengan Firman, yaitu pedang roh. Itu sebabnya penting bagi kita untuk terus membaca Firman setiap pagi hari.
Thursday, December 8, 2016
Pojok Berantakan
Mengajari dan membacakan pelajaran untuk mereka, setelah hampir selesai dan ternyata aku tidak didengarkan sama sekali. Memanggil namanya dan menyuruh mereka melakukan sesuatu, lalu tidak ada jawaban. Padahal kupastikan aku mengulangnya lebih dari 3 kali. Kurasa kupingnya ketinggalan entah di mana...
Aku tahu pasti momen-momen ini akan berakhir ketika mereka beranjak dewasa. Dan waktu itu kurasa aku akan merindukannya. Namun entah kenapa kali ini kesabaranku habis. Dan biasanya selalu begitu. Panggilan lemah lembut berubah jadi emosi. Lalu aku jadi berteriak-teriak tidak jelas. Entah terlalu banyak teori yang berbeda dengan kenyataan. Atau aku yang tidak bisa menerima kenyataan hidup, ketika mereka tidak melakukan sesuai keinginanku.
Aku mencintai rumah yang rapi dan bersih. Kurasa semua orang demikian. Sayangnya sejak kelahiran anak pertama, aku selalu kehabisan waktu, sampai sekarang. Rasanya banyak sekali hal-hal yang harus kukerjakan. Tugas-tugas yang harus kutunaikan. Namun tak kunjung selesai dan tak pernah selesai. Semuanya selalu kembali begitu cepat.
Pakaian kotor yang menggunung dengan cepat, sepatu-sepatu yang berserakan di depan pintu, mainan-mainan yang berserakan di lantai. Ketika kubereskan, aku tahu itu tidak akan bertahan lama. Sampai akhirnya kuberikan satu ruang yang cukup besar untuk mereka belajar dan bermain. Ruang itu kuberi nama "Pojok Berantakan". Rasanya begitu keren ketika aku menemukan ide itu.
Yah, tapi aku berterima kasih pada Tuhan, jika saat ini hidup dengan baik di tengah kekacauan ini. Itu karena Tuhan mengaruniaiku sebuah keluarga yang sangat aku cintai. Dan semua ini adalah bukti bahwa aku diberkati.
Subscribe to:
Posts (Atom)



